Jumat, 08 April 2016

Mlaku-Mlaku Nang Suroboyo


Trip kali ini tanpa ada unsur kesengajaan. Awalnya sepulang dari Pare, saya berniat mengunjungi beberapa teman semasa kuliah di Probolinggo dan Lumajang. Tapi karena Ibu menyuruh untuk segera pulang, gagal deh rencana itu. Maklumlah saya bawa sendok kemana-mana. Jadi dicariin deh (sendoknya :p). Akhirnya saya ubah haluan ke Surabaya.

Siang hari tanggal 24 Febuari 2016, saya bersama beberapa teman ke stasiun Kediri dengan angkot carteran. Ketiga teman saya langsung naik kereta jurusan Jakarta, sedangkan saya sendiri pisah dengan kereta Penataran menuju stasiun Gubeng Surabaya. Yup, let’s start solo backpacking!

Sekitar jam 7 malam saya tiba di Surabaya dengan sambutan rintik-rintik hujan. Mampir beli cemilan di Alfamart sambil tanya-tanya posisi penginapan. Saya telah booking My Studio Hotel dari Traveloka seharga Rp 123.324 include breakfast. Murah kan? Saya pilih hotel ini karena letaknya yang dekat dengan Stasiun Gubeng dan review dari yang pernah menginap disini lumayan bagus. Konsepnya pun sangat unik seperti dormitory room, yang sekamar isinya rame-rame. Tapi disini tidak pakai tempat tidur tingkat seperti biasanya, malah lebih mirip tempat tidur Doraemon yang ditutup pakai tirai plastik.

 'kamar' My Studio Hotel

Selesai mandi, saya keluar lagi untuk cari makan. Tanya-tanya receptionist, tempat makan ternyata engga jauh dari hotel namanya Gubeng Pojok. Saya makan ayam penyet yang lumayan nendang pedasnya. Sebenarnya saya ingin coba kuliner malam di Surabaya, tapi apalah daya badan dan mata engga sepakat. Akhirnya saya balik ke hotel. 

Setelah Sholat Subuh, saya lanjutkan buat tidur lagi. Hahaha… lumayan. Saat matahari mulai tinggi, saya segera bersiap-siap. Mandi, sarapan, dan check out. Destinasi pertama saya adalah Monumen Kapal Selam. Dari penginapan bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit. Menariknya adalah ada kapal selam raksasa yang nyangsang di tengah kota. Saya pikir ini mirip Museum Tsunami yang dari kapal terdampar. Ternyata memang sengaja kapal selam yang dibawa dari pelabuhan. Cara angkutnya pun harus dipotong-potong dan setelah sampai lokasi baru disambung lagi. Tiket masuk seharga Rp 5.000 ini plus bonus nonton film dokumenter yang diputar sehari 2x. Tapi sayang saat itu sepertinya saya adalah pengunjung satu-satunya. Jadi daripada menunggu ketidakjelasan apakah filmnya diputar atau engga, saya putuskan menunggu yang jelas-jelas aja, sama kayak nunggu calon suami. Betul kan? Hahaha…
Kapal selam yang 'terdampar'

Saya langsung menuju destinasi selanjutnya, yaitu Museum 10 November dan Monumen Tugu Pahlawan. Saya tanya-tanya angkutan menuju kesana ke petugas penjaga Monumen Kapal Selam, eh malah disuruh naik taksi. Zonk banget deh! Akhirnya saya putuskan untuk pakai Go-Jek. Ini sih lebih ke alasan cepat dan pastinya murah. Rp 15.000 aja lho! 

Sampai di Monumen Tugu Pahlawan, saya langsung menuju ke Museum 10 November. Tiket masuknya seharga Rp 5.000 aja. Menurut saya isi dari Museum ini sangat menarik apalagi bagi yang menyukai sejarah atau yang mau lebih tau tentang Surabaya. Oiya, pas datang saya bareng dengan rombongan anak SD dan pengunjung umum. Lumayan rame untuk ukuran pengunjung di hari kerja. Saya pun sempat ikutan nonton film dokumenter mengenai tragedi 10 November 1945 bersama rombongan anak SD. Kunjungan dari sekolah ini program yang bagus, kalau di Depok sih kayaknya sudah engga ada lagi program seperti ini. Buktinya lihat aja, sekarang lebih banyak orang yang datang ke museum cuma buat selfie aja. Belum lagi barang-barang peninggalan sejarah dengan enaknya asal dipegang, padahal jelas-jelas ada tulisan dilarang. Miris!

Isi Museum 10 November
 
Keluar dari Museum 10 November itu langsung menghubungkan dengan Monumen Tugu Pahlawan. Monumen ini terletak ditengah lapangan yang luas dan disudutnya seberangnya berdiri gagah patung Bung Karno dan Bung Hatta sedang membaca teks Proklamasi. Disekitarnya pun berdiri beberapa patung pahlawan nasional, termasuk Bung Tomo yang terkenal dengan teriakan lantangnya “Allahu Akbar!” saat tragedi 10 November 1945. Heroic banget deh!

 Tugu Pahlawan di belakang Sang Proklamator

Lanjut perjalanan lagi, kali ini saya menuju Kawasan Ampel masih dengan transportasi yang sama, Go-Jek. Ngobrol-ngobrol dengan driver-nya, dia agak bingung tujuan saya kesana dan melihat tampilan saya dengan tas besar dan jeans. Kebanyakan yang kesana adalah yang mau ziarah. Saya bilang penasaran dengan Kawasan Ampel itu seperti apa. Saya di wanti-wanti untuk waspada dan selalu berhati-hati selama disana. Dia cuma bilang, itu daerah rawan untuk perempuan yang sendirian. Dia sendiri pun agak segan untuk masuk kawasan itu. Entah apa maksudnya. 

Kawasan Ampel itu setiap harinya ramai oleh peziarah makam Sunan Ampel. Untuk menuju kesana ada banyak lorong yang saling berhubungan mirip jarring laba-laba, dengan pusatnya Masjid Sunan Ampel dan makam yang ada disebelahnya. Didalam sini engga cuma ada makam Sunan Ampel, tapi juga makam ulama dan kyai yang sangat dihormati. Engga mau seperti kejadian di makam Sunan Gunung Jati Cirebon, saya langsung duduk untuk membaca Al-Fatihah. Baru deh foto-foto. Oiya, disini sebenarnya kawasan dilarang ambil foto. Saya pun hanya bisa ambil 1 foto didalam, itupun ngumpet-ngumpet. Jangan ditiru ya :p

 Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel

Dari sini saya bingung mau kemana. Sebenarnya mau ke Museum Kesehatan alias Museum Santet, tapi koq takutnya kalau nanti disana cuma sendirian atau lagi sepi pengunjung.Apalagi review dari orang-orang yang pernah kesana bikin bulu kuduk merinding. Kan engga lucu kalau baru masuk terus saya lari keluar lagi. Hahaha… skip aja deh, cari tempat yang aman aja.

Akhirnya saya putuskan ke Masjid Cheng Ho aja. Arsitektur masjid ini mirip dengan klenteng orang-orang Tionghoa dengan kubahnya yang mirip pagoda. Masjidnya pun sangat kecil, cuma muat untuk 6 shaf aja kalau penuh. Disisi kanannya ada diorama Laksamana Cheng Ho lengkap dengan miniatur kapal waktu ekspedisi jalur sutera. Menarik banget! Sayang saat saya kesitu belum masuk waktunya sholat, masih sekitar 1,5 jam lagi. Penasaran sih apakah imam atau muadzinnya juga orang Tionghoa atau turunannya Laksamana Cheng Ho. Saat itu masjid sangat sepi, cuma ada 1 orang yang lagi tidur di pelatarannya. Bingung mau tanya-tanya ke siapa.

 Masjid Cheng Ho yang unik

Perut mulai keroncongan dan saya harus coba kuliner khas Surabaya, yaitu rujak cingur. Saya browsing rujak cingur yang terkenal ada di dekat Pasar Genteng. Mengandalkan Go-Jek lagi, saya langsung meluncur kesana. Sebelum makan, saya cari toko pusat oleh-oleh. Sambel Bu Rudy dan Almond Cheese titipan orang rumah. Di warung Rujak Cingur Genteng Durasim, saya pilih menu rujak cingur special. Sepiring rujak cingur tersisa cingurnya yang ternyata engga tega juga buat dimakan semuanya. Hahaha…

Waktu sudah lewat Dzuhur dan matahari lagi genit-genitnya. Hawanya tuh kayak di tiup pakai angin kompor. Panas banget! Dengan Go-Jek lagi saya langsung menuju House of Sampoerna karena akan ikut bus tripnya jam 1 siang. FYI, ikut trip disini gratis lho, tapi harus registrasi dulu ke no telp 031-539000 Ext.24142, Saya sebenarnya kemarin registrasi untuk trip jam 9 pagi, tapi ternyata full booked. Sehari itu ada 3 trip di jam 9 pagi, 1 siang dan 3 sore. Saya langsung registrasi ulang di meja receptionist. Eh, salah satu guidenya mengenali saya lho. Dia lihat saya di Monumen Tugu Pahlawan. Mungkin karena saya menarik ya, maksudnya tampilan saya kayak mau naik gunung jadi pusat perhatiannya. Hehehe… Waktu menunjukkan sudah hampir jam 1, saya bergegas sholat dan nitip gembolan saya. 

Jam 1 kurang 5 menit, peserta trip sudah siap di bus. Bagus nih bisa on time. Rute yang dilewati adalah Jembatan Merah, kemudian menuju pemberhentian pertama di Klenteng Tri Dharma Sukhaloka. Katanya sih itu klenteng tertua di Surabaya. Menarik sih tapi yang engga tahan itu asap dupanya, bikin batuk-batuk dan mata perih. Pemberhentian selanjutnya adalah Museum Bank Mandiri Surabaya Kembang Jepun. Museum tipikal bangunan peninggalan Belanda ini mengingatkan saya pada Museum Bank Mandiri di Kota Tua Jakarta. Yang menarik disini ada mesin hitung tua yang engga dijaga apa-apa. Ternyata itu karena beratnya yang bikin susah buat digeser. Ditantanglah 2 orang bule yang tingginya lebih 2 meter buat geser mesin ini. Ajaib, ternyata engga bergeser sedikitpun. Wow!

Perjalanan bus ini lebih kurang selama 1 jam dengan 2x pemberhentian dan banyak cagar budaya yang dilewatinya. Guide itu info bahwa 3x trip bus ini berbeda-beda. Jam 9 pagi itu berhenti di Monumen Tugu Pahlawan, makanya bisa ketemu dengan saya. Dan dalam sehari kita hanya bisa mengikuti 1 trip saja. Bila mau ikut rute yang berbeda harus registrasi lagi di hari yang lain. Nah, karena peserta trip ini ada 3 orang bule dari Belanda dan Jerman, maka si guide menggunakan 2 bahasa dalam setiap penjelasannya. Makin pengen deh punya profesi sebagai guide. Ayo semangat belajar lagi!

City Tour House of Sampoerna
Jam 2 tepat, kami tiba lagi di House of Sampoerna. Saya langsung menuju museumnya yang berada 1 gedung dengan pabriknya. Isi museum ini semua yang berhubungan dengan rokok dan tembakau, ya namanya juga pabrik rokok. Kita bisa melihat buruh pabrik yang melinting dan mengepak rokok dari atas yang dilapisi jendela kaca yang besar. Cepet banget lho! Selama kerja mereka diiringi lagu yang upbeat, mungkin supaya engga ngantuk ya. Sayangnya kita engga boleh ambil foto disini. Dan banyak penjaganya pula, engga berani deh nyuri-nyuri foto :p

Museum yang bau rokok -_-'
 
Saya masih punya cukup waktu sebelum ke bandara. Saya balik ke meja receptionist untuk tanya angkutan ke bandara. Infonya Surabaya tuh sering macet pas jam pulang kerja. Jadi mereka saranin untuk naik taksi aja dan mereka pula yang menawarkan untuk memesannya. Rejeki anak sholehah nih! Mereka pun saranin untuk cobain makanan khas Surabaya juga yang ada dibelakang gedung ini, yaitu Tahu Campur. Dan ternyata enak sodara-sodara! Plus Es Degan yang bikin seger tenggorokan. Kenyang…

Balik lagi ke House of Sampoerna, engga lama taksi datang. Saya langsung bergegas bawa gembolan. Alhamdulillah engga lama hujan turun deras banget. Bahkan sampai masuk tol itu seperti hujan angin. Engga kelihatan apa-apa di jendela. Sampai di bandara tinggal rintik-rintiknya aja. Masih ada waktu 1,5 jam lagi sebelum boarding. Setelah check in dan masukin bagasi, saya menuju ruang tunggu. Sesaat sebelum waktunya boarding malah ada info delay. Oh no… Akhirnya saya keluar lagi menuju mushola. Delay yang awalnya hanya 1 jam, malah nambah lagi jadi 2 jam. Arrggghh… Compliment snack berupa roti dan air mineral engga cukup buat ganjel perut. Mau cari makan pun sudah engga nafsu. Tidur deh :D

Pas saya tersadar ada panggilan boarding. Ternyata di ruang tunggu itu sudah rame banget. Bahkan banyak yang engga kebagian kursi. Dua pesawat delay bikin crowded. Apalagi banyak sumpah serapah. Bikin bete! Perjalanan lancar jaya dan saya lanjutkan tidur. Alhamdulillah akhirnya sampai di Jakarta dengan selamat.

Overall, perjalanan solo backpacking ini Alhamdulillah bisa terlaksana dengan lancar dan aman.Mungkin kalau melihat rutenya itu banyak yang muter-muter. Saya pun baru tersadar karena beberapa kali melewati jalan yang sama. Hahaha… Tapi untuk 2 hari yang full ini saya sangat menikmatinya. Oneday harus coba jalan sendiri di daerah yang lain.Let’s prepare!

Salah satu mimpi yang terlaksana
Solo Backpacking!
24 - 25 Febuari 2015 

4 komentar:

  1. sudah lama aku agk ke Surabaya, sudah sejak kuliah gak ke sana lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin 1 yg gak berubah, Surabaya masih panas bgt mba :p

      Hapus
  2. Di Surabaya jarang ada angkot atau gimana mbak?
    Aku ada rencana solo traveling jg ke Surabaya, duh deg-degan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga rute tempat wisata dilewatin angkot mba
      Pas tanya2 rute sama orang lokal pun disaranin naik taksi -_-"
      So, menurut saya sih lbh irit klo sewa motor aja & siapin GPS
      Met solo traveling ya mba ;)

      Hapus

monggo...