Senin, 16 Juni 2014

Lelaki Hujan

Sebut saja dia begitu...

Memang saat itu di Januari, saat yang wajar untuk langit menumpahkan bebannya.
Tapi siapa yang bisa meramalkan cuaca sekarang ini. Musim hujan bisa jadi kering kerontang. Begitupun yang seharusnya musim kemarau, hujan bisa datang kapan saja tanpa permisi. 
Efek dari pemanasan global, kata orang-orang.

Aku nggak pernah menafikan itu. Hanya saja dia pantas menyandang kata 'Lelaki Hujan'.
Dari beberapa kali pertemuan (pertama setelah berbulan-bulan dipisahkan lautan dan daratan) di bulan Januari itu, hampir tiap kali itu juga hujan ikut menemani.
Mungkin hujan pun rindu akan kehadirannya disini. 
Sama sepertiku.

Bagai anak kecil yang berlarian menyambut gerimis.
Atau orang Indian dengan suka cita tarian hujannya.
Juga seorang pengojek payung yang memandang syukur atas derasnya.
Sampai sekarang aku pun masih begitu. Walaupun kadang hujan tak diizinkan hadir oleh-Nya.
Ada atau tiadanya hujan, dia masih tetap dengan panggilan yang sama,

Lelaki Hujan-ku...

Dipertengahan Juni, saat hujan masih menyapa
Miss Rain