Rabu, 06 Agustus 2014

Air Asia : Kesan Pertama Begitu Menggoda, Selanjutnya Terserah Anda

Apapun yang menjadi pertama kali pasti selalu berkesan. Entah itu kesan yang enak ataupun kesan yang ga mengenakan. Begitupun saat saya mencoba untuk memberanikan diri backpacking ke luar negeri. Ga jauh sih, karena saya belum punya cukup keberanian. Saya memulainya backpacking ke Singapura dan Malaysia bersama dua orang teman, yaitu Nanta dan Yus.

Nanta adalah teman yang saya kenal lewat komunitas Kaskus Backpacker regional Jabotabek. Dia cerita tentang rencananya ke dua negara tersebut dengan temannya, Yus. Saya yang belum pernah jalan-jalan yang jauh, karena masih berkutat wilayah domestik saja, tertarik untuk gabung dengan mereka. Mereka sudah mengantongi tiket promo Air Asia. Mulailah saya hunting tiket. Waktu itu adalah H-5 bulan. Saya fikir cukup untuk mencari tiket murah juga.

Setelah ngubek-ngubek websitenya Air Asia, dapatlah saya tiket dengan harga promo. Tiket CGK - SIN 29 Oktober 2011 seharga IDR 249.000 dan tiket KUL - CGK 1 November 2011 seharga MYR 236.5. Cukup mahal sih kalau kata teman-teman yang biasa mantengin websitenya Air Asia. Katanya mereka bisa dapat tiket dengan harga Rp 0. Jadi cukup membayar tax-nya saja. Menurut saya cukup murahlah dibanding harga tiket dari airlines lain yang saya cek waktu itu. Tapi ternyata tiket keberangkatan saya berbeda dengan kedua teman saya, karena sudah full booked. Mereka berangkat pagi, sedangkan saya berangkat malam. Tanpa fikir panjang saya memutuskan untuk ambil tiket tersebut.

Sampailah di Hari H. Pagi-pagi, kedua teman saya mengabarkan bahwa mereka sudah di Bandara Soetta, menunggu waktu boarding. Sedangkan saya masih harus menyelesaikan pekerjaan di kantor. Tentunya perlengkapan sudah saya bawa. Lucunya, saya pakai baju resmi, tapi pakai tas carrier dan sendal gunung. Sorenya, saya langsung menuju bandara. Sebenarnya saya agak ketar-ketir dengan perjalanan ini. Karena ini adalah pertama kalinya saya melakukan perjalanan jauh seorang diri, walaupun sampai sana ketemu dengan travel mate saya. Ini juga adalah pertama kalinya saya menggunakan Air Asia, yang awalnya saya ragukan karena harganya yang murah.

Alhamdulillah, perjalanan saya lancar. Dengan cuaca yang bagus dan pilot yang berpengalaman, saya tidak mengalami turbulensi pesawat yang selalu menjadi momok bagi saya. Awak kabinnya pun ramah, membuat saya nyaman dalam perjalanan tersebut. Dan yang membuat saya terkesan adalah landing-nya pesawat yang mulus. Sangat terkesan saya dalam perjalanan dengan Air Asia ini.

Sampai di Changi Airport sekitar jam 10 malam. Clingak-clinguk kayak Angelina Jolie kehilangan Brad Pitt. Untung saja petunjuk disitu jelas, benar-benar membantu banget deh buat saya yang baru pertama kali menginjak Singapura. Saya langsung ke stasiun MRT buat naik menuju Bugis. Sampai di stasiun Tanah Merah, saya lihat orang-orang turun. Hampir lupa kalau saya harus turun disitu trus sambung lagi MRT ke Bugis. Hahaha.. untung aja nggak kebawa ke bandara lagi *lucky no. 1 

Bugis masih rame. Mungkin karena saat itu malam Minggu. Sightseeing sambil meredam gejolak dan hasrat untuk shopping. Caranya pasang kacamata kuda. Sebisa mungkin nggak tengok kanan-kiri atau berhenti. Perut mulai keroncongan, saya balik lagi menuju Burger King. Sambil tanya-tanya ke pramusaji jalan menuju ke InnCrowd Hostel di daerah Little India. 

Selesai makan, langsung jalan ke arah yang ditunjukkan. Dengan PD, saya terus melangkah. Katanya cuma 10 menit, koq 20 menit nggak sampai-sampai juga. Hahaha... feeling saya sih salah jalan. Lihat peta tambah bingung. Capek jalan, saya menyebrang buat naik bus balik arah. Lumayan lama nunggunya, mungkin karena sudah tengah malam. Bus datang, ternyata saya cuma sendiri penumpang disitu. Turun, tanya-tanya lagi ke sekelompok anak muda yang lagi nongkrong di pinggir jalan. Mereka kasih tau jalan pintas menuju Little India *lucky no. 2

Akhirnya sampai di Little India. Muter-muter cari Dunlop St. Sudah jarang orang yang bisa ditanya, ya secara jam 00.30 dini hari. Tanya polisi, ternyata saya kelewatan. Balik lagi, lewat jalan-jalan kecil dan sepi. Jalan santai sih, tapi kalau sudah denger suit-suitan langsung jalan cepat tanpa menoleh kiri kanan. Keringet mengucur deras sampai baju saya berasa lepek. Serem juga sih…

Fuihh… plang Dunlop St. kelihatan. Bagai melihat kasur di depan mata. Apalagi pas ketemu Nanta & Yus. Bagai melihat dua pendekar penumpas kejahatan. Hahaha… lebay mode on. Tanpa ba-bi-bu, langsung check in, menuju kamar, mandi dan tidur. Suara dengkuran tempat tidur sebelah dan goyangan dari tempat tidur atas akhirnya jadi pengantar tidur saya. Zzz…

Perjalanan saya seorang diri sampai menginjakan kaki di Singapura itu benar-benar mengesankan. Kesan awal yang bagus selama di Air Asia, berlanjut kecapekan saat nyasar, nyeremin saat di suit-suitin orang nggak di kenal, dan kelegaan saat ketemu Nanta dan Yus.   

 Baru bisa foto bersama di hari ke-3 di Kuala Lumpur


Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Kompetisi Blog 10 Tahun AirAsia Indonesia
6 Agustus 2014 


Senin, 16 Juni 2014

Lelaki Hujan

Sebut saja dia begitu...

Memang saat itu di Januari, saat yang wajar untuk langit menumpahkan bebannya.
Tapi siapa yang bisa meramalkan cuaca sekarang ini. Musim hujan bisa jadi kering kerontang. Begitupun yang seharusnya musim kemarau, hujan bisa datang kapan saja tanpa permisi. 
Efek dari pemanasan global, kata orang-orang.

Aku nggak pernah menafikan itu. Hanya saja dia pantas menyandang kata 'Lelaki Hujan'.
Dari beberapa kali pertemuan (pertama setelah berbulan-bulan dipisahkan lautan dan daratan) di bulan Januari itu, hampir tiap kali itu juga hujan ikut menemani.
Mungkin hujan pun rindu akan kehadirannya disini. 
Sama sepertiku.

Bagai anak kecil yang berlarian menyambut gerimis.
Atau orang Indian dengan suka cita tarian hujannya.
Juga seorang pengojek payung yang memandang syukur atas derasnya.
Sampai sekarang aku pun masih begitu. Walaupun kadang hujan tak diizinkan hadir oleh-Nya.
Ada atau tiadanya hujan, dia masih tetap dengan panggilan yang sama,

Lelaki Hujan-ku...

Dipertengahan Juni, saat hujan masih menyapa
Miss Rain
 
 

Kamis, 10 April 2014

January's Trail

9 Januari 2014 (pukul 15.47)
Tiba-tiba aja ada yang mengirim lokasi via wasslap lagi ada di daerah Pekayon, Pasar Rebo. Yup, dia seseorang yang sehari-harinya berdomisili di Palu. 
Keki? Jelaslah! Kemarin terang-terangan dia info batalin kepulangannya ke Jakarta karena harus terbang ke Manado. Eh, ngga ada angin tapi ada hujan rintik-rintik tiba-tiba aja dia nongol disini. Entah seneng, nervous, kaget, atau apa. Tapi yang jelas keki banget!
Finally, sore itu ketemu setelah berpuluh-puluh tahun ga ketemu :p

Waktu yang singkat harus dimanfaatin semaksimal mungkin. Ini jadi prinsipnya! Hahaha...
Hari minggu kita rencanain ke Gunung Padang. Gue tanya sana-sini, browsing, booking tiket kereta. Biasa deh ditunjuk sepihak sebagai seksi rempong, soalnya mau disebut guide juga ngga tau jalan. Hihi...

12 Januari 2014
Janjian jam 6 pagi di stasiun terdekat masing-masing. Gue di Depok Lama, dia di UI. Sampai akhirnya ketemuan di gerbong kereta.
Sampai stasiun Bogor jam 7. Ternyata kereta ke Sukabumi itu bukan di stasiun Bogor lagi, tapi di stasiun Paledang. So, kita cari-cari jejaknya Paledang itu yang menurut informasi beberapa orang yang kita tanya posisinya ada di belakang KFC.
Stasiun Paledang yang cuma seuprit gitu tapi orang-orang numplek disitu. Apalagi pas saat itu kereta dari Sukabumi baru datang. Riweh banget cari jalan ke loketnya buat tuker struk pembelian sama print-out tiketnya.

Harga tiket Rp 15.000 ya lumayan lah untuk ukuran jarak ke Sukabumi yang kalo naik bus bisa bikin semaput. Jalan ancur plus macet. Eh tapi ini asumsi gue ya. Pengalaman 3 tahun lalu kesana yang bikin ogah balik lagi.

Kereta mulai bergerak on time jam 7.35. Semilir AC ga terlalu terasa tapi lumayan adem soalnya memang udara agak dingin abis gerimis. Uniknya AC yang dipasang itu tipikal AC split kaya' di rumah-rumah. Jangan-jangan bukan cuma gerbong keretanya yang bekas pakai, tapi AC-nya rongsokan juga dari rumah-rumah orang. Hahaha....

Jam 10 kurang kita menginjakan kaki di stasiun Sukabumi. Sayang kereta rute Sukabumi - Cianjur belum mulai beroperasi lagi. Infonya sih mau mulai Januari. Entah Januari tahun kapan. Tahun gajah kali ya :p

Kita lanjut ngangkot dari depan stasiun menuju Sukaraja. Nah sampai Sukaraja ini jadi agak-agak melenceng dari info temen. Harusnya dari terminal Sukaraja naik angkot sampai pangkalan ojek Tegal Sereh. Kita malah diturunin di pertigaan Sukaraja, ngga sampai di terminal. Mungkin karena penumpangnya cuma kita yang tersisa.

Tanya-tanya, lanjut lagi 2x ngangkot sampai ke Warung Kondang. Tunggu-tunggu... Whats? Masih 20 km lg? Jauh bener... Tengok kanan-kiri kelihatannya sih ada angkot yang arahnya sama ke Gunung Padang. Jalan dikit, angkot yang ada dari jalur sebaliknya. Duduk di depan rumah orang, belum keliatan bentuk angkotnya. Masih sabar nunggu, angkotnya datang tapi penuh -_-. Komat-kamit doa, akhirnya dateng ^_^

Tanya lagi ke supir, ternyata angkotnya ngga sampe Gunung Padang. Dan ternyata perjalanan masih sekitar 15 km lagi. Cuma ada ojek buat menuju kesana. Kita diturunin di pangkalan ojek yang sepi. Ga lama dateng 1 ojek, ngga jelas ojek ke-2 harus nunggu sampe kapan. Akhirnya daripada lumutan plus jamuran nunggu yang ngga jelas, si abang ojek nawarin bertiga di ojeknya. Waduh!...

Lanjut... Perjalanan ternyata ngga semulus yang dibayangkan. Batu-batu, jalanan licin plus kubangan air hujan bikin dzikir sepanjang perjalanan. Ditambah kaki & tangan yang pegel harus menyeimbangkan badan. Belum lagi mulai angin, gerimis, sampe hujan deres yang bikin harus neduh di warung kopi dulu. Berasa lagi motocross deh :p 

Singkat cerita (soalnya kepanjangan sih :p), sampailah kita di gerbang masuk Situs Megalitikum Gunung Padang.Tapi karena masih ojek-lag, kita duduk-duduk dulu di warung yang ada di sekitar situ. Ngelurusin kaki, pijet-pijet, makan, sholat, sambil neduh karena memang masih gerimis juga.

Lewat sini bayar 2.000

Beres makan & sholat, kita menuju loket masuk. Menurut info penjaga loket, ada 2 jalur yang bisa kita lewati untuk menuju situs, jalan aslinya yang berupa tumpukan batu seperti tangga terjal atau jalan baru yang mulus tapi lebih panjang jalurnya. Kita pilih jalan aslinya untuk berangkat dan jalan baru untuk rute pulangnya nanti. Lumayan bikin ngos-ngosan & paha kaku. Beberapa kali berhenti untuk ambil nafas plus foto-foto dong :D

Penampakan tukang ojek payung :p

Wow... Keren banget! Asli takjub dengan peninggalan zaman manusia purba itu. Tapi sayang banyak pengunjung yang dengan seenaknya naik & duduk-duduk diatas tumpukan batu buat ambil pose. Entah memang bebas atau nggak karena cuma beberapa batu yang ditempel larangan untuk dipanjat. 

Baru beberapa menit disana, eh ujan turun lagi. Lari-larian lah ke rumah panggung disana. Niatnya mau neduh sebentar, malah tambah deres. 
Foto-foto. 
Ngobrol-ngobrol. 
Foto-foto lagi.
Ngobrol-ngobrol lagi.
Sampai akhirnya tersisa gerimis. Buru-buru kita turun ke bawah. Ambil tas & jaket yang kita titipin di warung makan tadi. Panggil anaknya ibu warung yang akan antar kita sampai ke Tegal Sereh. 

Again, naik motor bertiga! Untungnya motor kali ini lebih gede & luas joknya. Dan memang lebih cepet & lebih lincah di jalanan. Bahkan sempet ngebut di jalan raya. Hahaha... Over kapasitas plus nggak pakai helm pula! Tapi ternyata polisi disana adem ayem aja tuh. 

Sampai di Tegal Sereh, kita lanjut bus jurusan Jakarta yang lewat Puncak. Cari posisi wuenak, ternyata tinggal yang di bagian smoking area. Mudah-mudahan nggak ada yang ngerokok :(
Bus udah penuh tapi si kondektur tetep aja semangat naikin penumpang. Kursi penuh, yang berdiri juga padet. AC makin nggak terasa saking penuhnya penumpang. Yah pasrah aja. Tidur, bangun, tidur nggak jelas.

Hingga berakhirlah penderitaan pas bus masuk ke Terminal Kp. Rambutan. Hujan turun makin deras. Lanjut taxi sampai rumah deh.
Finally, one full day trip berakhir dengan baju basah, tas kotor kena cipratan hujan, kaki belang dengan bekas sendal gunung plus keseruan-keseruan yang bakal jadi cerita ;)


Full day trip with full of fun!