Senin, 06 Februari 2012

Chocolate Addicted

Kaya'nya ga cuma gue deh yang doyan setengah mati sama cokelat. Ribuan, jutaan, bahkan milyaran orang pasti suka sama makanan olahan dari biji kakao (theobroma cacao) ini. Dan gue menanggap orang2 yang ga suka cokelat sama saja dengan orang yang tidak menikmati hidup :p

Cokelat mengandung alkoloid-alkoloid seperti teobromin, fenetilamina, dan anandamina, yang memiliki efek fisiologis untuk tubuh. Kandungan-kandungan ini banyak dihubungkan dengan tingkat serotonin dalam otak. Menurut ilmuwan cokelat yang dimakan dalam jumlah normal secara teratur dapat menurunkan tekanan darah. Cokelat hitam akhir-akhir ini banyak mendapatkan promosi karena menguntungkan kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah sedang, termasuk kandungan anti oksidannya yang dapat mengurangi pembentukan radikal bebas dalam tubuh (sumber: Wikipedia).

Kandungan dalam cokelat diyakini bisa menambah energi. Itulah sebabnya gue selalu sedia dalam tas.Dan kalo orang bilang cokelat itu bisa bikin gemuk. Salah tuh... Buktinya gue masih tetep aja singset walaupun tiap hari mengkonsumsi cokelat ;)

Cokelat apa yang paling enak? (Ini versi gue lho! Dilarang protes :p)

Cokelat keluaran dari Al-Nukaly. Toko ini adanya ga jauh dari Masjidil Haram, Mekkah. Pas buka pintu, hm... wangi cokelat yang semerbak langsung memenuhi rongga dada gue. Rasanya mungkin sama kaya' orang yang lagi nyabu (sok tau :p). Tapi beneran bikin nagih sih.
Toko itu berisi cokelat beraneka warna, bentuk & rasa. Asiknya gue bebas mengunyah tiap jenis sebelum memutuskan membeli. Hehe... Whats? Ga nyadar ternyata SR 400-an (sekitar Rp 1 juta-an) melayang dalam sekejap. Dan gue ga menyesal bila itu ditukar dengan beberapa kantong cokelat yang enak itu.

Toko Al-Nukaly, Makkah

Tahun lalu pas ke Jogja, gue teringat akan cokelat produksi wong Jogjo, cokelat Monggo. Suatu siang gue berhasil menculik Om Badjoe, Om Noda, Eka & Deli buat menjambangi langsung ke tokonya. Letak tokonya jauh banget dari Malioboro dan bener2 di pelosok. Kiss deh buat para penyamun yang mau anterin :*
Lucunya ke-4 penyamun itu bener2 gila kelakuannya. Tiap si mba pramuniaga menghidangkan cokelat tester, dalam hitungan detik langsung ludes masuk mulut & kantong mereka. 3x mba pramuniaga keluarin tester, 3x juga kejadian terulang seperti pencet tombol rewind. Dan gue ga mau keabisan lagi. Pas tester ke-2 & ke-3 keluar, kaya' anak ayam kelaperan kita ber-5 langsung kerubingin piring wadahnya :))
Disitu ternyata toko sekaligus tempat produksinya. Sayang kita datang pas hari Minggu, waktu libur buat pegawai produksi. Tapi kita bisa lihat peralatan2 masaknya lewat dinding kaca yang membatasi ruang toko & produksi. Hommy banget tempatnya.
Cokelat favorit gue adalah cokelat rasa red chili. Bingung? Unik banget rasanya. Rasa cokelat tapi pedes2 gitu. Lumayan bikin megap2 & panas lidah deh.

Rumah Cokelat Monggo, Jogja

Terakhir, yang paling sering hinggap di tas gue adalah Pocky. Ini ga pure cokelat sih, bentuknya biskuit stick yang berbalut cokelat. Selama ini yang gue temui di Indo***t atau Alfa***t yang cokelatnya polos. Nah, ga sengaja waktu ke Seven*****n di Singapore, gue ketemu Pocky dalam bentuk lain. Dalam balutan cokelatnya itu dicampur potongan kacang. Enaaaak. Sayang cuma beli 1 box aja. Dan itu artinya gue harus ngirit2 makannya :(

Mau lagi...

Kesimpulannya, gue mengkategorikan cokelat itu kedalam dua jenis:
Enak, yaitu semua cokelat yang ada di dunia ini.
Enak banget, yaitu cokelat yang rasanya sampai meresap dalam hati. Susah buat digambarin apalagi dilupain. Yang bisa merubah dari bad mood menjadi good mood dalam hitungan detik ketika cokelat itu meleleh di lidah. Yang bikin lo merasa berada di dunia lain (bukan horor ya :p) & hilang semua masalah.

So, taste the world in a bar of chocolate ;)