Jumat, 18 November 2016

Karena Hidup Nggak Cuma Buat Hari Ini

Motto hidup : Kecil bahagia, muda senang-senang, tua kaya raya, mati masuk surga.

Pernah nggak kalian tulis ini di buku harian? Kalau saya sih pernah. Hahaha... Ini mungkin jadi cita-cita semua orang. Tapi pernahkah kalian merencanakannya dengan program hidup yang jelas? Belum tentu semua orang melakukannya. Mari kita bahas...

Kecil bahagia...
Kalau bagian ini, orang tua kitalah yang paling berperan. Bagaimana orang tua kita yang merencanakan pendidikan, kesehatan, dan tabungan masa depan supaya nggak nyusahin anak-anak di masa tuanya. Tapi sayang, nggak semua orang melek financial, termasuk orang tua kita mungkin.

Mati masuk surga...
Ini mah jadi urusan pribadi sesuai agama yang dipercayai masing-masing ya.

Muda senang-senang... dan Tua kaya raya...
Definisi senang-senang bagi tiap orang bisa berbeda-beda. Dulu saya beranggapan kalau gaji itu ya harus dihabiskan. Buat apa kerja kalau bukan untuk senang-senangin diri sendiri dan keluarga. Kamu juga begitu? Hahaha... cari temen. Tiap bulan pasti anggaran entertain jadi yang mendominasi, mulai nonton, ngopi cantik, shopping, salon, belum lagi novel yang new release minta dibeli. 
Terus bila muda senang-senangnya seperti ini, apakah tua bisa kaya raya? Gampang kan jawabannya?

Suatu saat ada musibah yang menimpa keluarga saya, kakak tertua harus di opname karena suatu penyakit. Tabungan mulai dikuras, asuransi nggak punya, bahkan nggak punya investasi selain rumah dan kendaraan yang memang dipakai sehari-hari. Oh no... ini nggak boleh kejadian lagi.

Sampai akhirnya saya hadir di acara "Yuk, Atur Uangmu" yang diadakan oleh Sinarmas MSIG Life dengan pembicara yang sangat mumpuni di bidang financial planning, yaitu Mba Mike Rini Sutikno. Disitu saya mulai terbuka matanya mengenai perencanaan keuangan untuk mencapai kebebasan finansial.


Kebebasan Finansial

Jangan Asal Nabung!
Ini sudah saya lakukan sebenarnya. Saya menabung hanya untuk barang-barang yang sedang diincar atau traveling yang lagi diimpikan. Saya pernah 2 bulan alokasikan budget shopping dan salon untuk membeli HP atau puasa ngopi dan nonton berbulan-bulan untuk biaya backpackeran seminggu ke Malaysia & Thailand. 
Tapi tujuan tabungan saya ini hanya bersifat konsumtif dan jangka pendek saja. Bagaimana bila terjadi emergency seperti yang pernah terjadi pada kakak saya? Ataukah saya siap bila terjadi PHK di kantor sekarang ini? *think

Jangan Simpan Telur di Satu Keranjang!
Selain menabung, investasi penting juga nih. Saya selalu beranggapan investasi itu nunggu kaya, punya cash yang nganggur, atau tiba-tiba menang hadiah lotre. Hehehe... 
Ternyata investasi tuh banyak yang murah lho. Jangan melulu lihat investasi rumah atau kendaraan yang belum terjangkau. Coba tengok beberapa produk investasi yang bisa disesuaikan dengan kondisi kantongmu. Mulai dari saham, obligasi, reksadana atau komoditas (logam mulia, valas dan properti). Kalau kamu cek harga-harga saham, bisa koq kamu coba beli dengan modal dibawah 1 juta. Berasa punya perusahaan ya ;)
Jangan simpan telur di satu keranjang. Ini jadi pesan pentingnya. Namanya investasi kadang bisa menghasilkan lebih dari ekspektasi, tapi jangan kaget kalau tiba-tiba hancur. Antisipasinya kita investasikan di beberapa tempat berbeda. Satu mati, masih ada yang bisa diselamatkan.

Jangan Salah Pilih Asuransi!
Asuransi diambil bukan karena ada yang akan meninggal, tapi karena ada orang yang harus tetap hidup
Saya baca kalimat ini berulang-ulang. Bener banget nih! Coba lihat sekeliling kita, berapa banyak orang yang terpuruk saat orang tuanya meninggal dunia dan mewariskan hutang? Berapa banyak anak yang putus sekolah saat orang tuanya sakit-sakitan? Atau berapa banyak istri yang putus asa saat suaminya di PHK? Nah asuransilah yang bisa mengambil peranan saat-saat itu. Tapi berapa banyak orang yang sudah punya polis asuransi? Asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, asuransi jiwa, atau yang lainnya?
Saya sendiri baru punya satu polis asuransi kesehatan. Itupun fasilitas dari kantor. Jujur, saya pernah tertipu dengan asuransi unitlink. Beli karena nggak enak sama teman, tanpa tahu seperti apa produknya.
Saran saya, beli produk asuransi sesuai dengan kebutuhan dan jangan tergiur dengan bahasanya si agen. Namanya penjual, pasti dong yang ditampilkan hanya bagusnya saja, tanpa info minusnya apa. Kalau mau tahu produk asuransi yang beragam jenisnya, coba saja Asuransi Sinarmas MSIG Life. Jangan lupa pelajari dulu produknya yang memang kamu butuhkan.    

Jangan Takut Gagal Untuk Sukses!
"Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan."
Ini merupakan hadits yang memotivasi untuk mencoba berbisnis. Ada berbagai metode yang bisa kamu pilih, yaitu franchise, MLM, direct selling, join online platform atau bangun sistem sendiri. Namanya bisnis jatuh bangun adalah hal yang biasa. Orang yang sukses adalah orang yang telah berulang kali merasakan kegagalan, tapi dia mampu untuk bangkit lagi. Siapkah kamu untuk sukses?

Karena hidup nggak cuma buat hari ini, Yuk, atur uangmu!...


Tulisan ini diikutsertakan dalam event ini

Karena hidup nggak cuma buat hari ini...
18 Nov 2016






Senin, 03 Oktober 2016

Setu Babakan, Tetiba Nyasar Dimarih

Bagi yang punya waktu luang sedikit atau kantong sedang menipis (seperti saya... hehe...) tapi butuh suasana yang beda. Ngga ada salahnya ke Setu Babakan, yang berlokasi di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Setu Babakan adalah kawasan perkampungan yang ditetapkan oleh pemerintah Jakarta sebagai Pusat Pelestarian dan Pengembangan Budaya Betawi. Setu yang berada disini adalah danau buatan yang katanya berasal dari Kali Ciliwung. 


Pintu Masuk Setu Babakan


Bagaimana caranya kesana?
Gampang banget. Saya kesana naik motor dari Depok. Arahnya setelah melewati Univ. Pancasila, ada petunjuk jalan Setu Babakan untuk belok kiri. Beberapa kali ketemu jalan bercabang tapi ngga bingung karena petunjuk arahnya jelas banget. Ini berlaku buat kamu yang pakai mobil pribadi juga. Posisi sebelah kiri jalan.

Naik angkutan umum? Ngga susah koq. Tinggal naik Kopaja S616 Jurusan Blok M - Cipedak. Jangan lupa ingetin kondekturnya buat berhenti di depan gerbang Setu Babakan supaya ngga kelewatan. Untuk yang naik kereta bisa turun di Stasiun Pasar Minggu atau Stasiun Tanjung Barat, terus lanjut naik Kopaja S616.

Makan apa disana?
Sebagai pecinta kuliner, saya merasa berada di tempat yang tepat. Beragam makanan khas Betawi lengkap banget. Mulai dari Soto Betawi, Kerak Telor, Es Selendang Mayang, Bir Pletok, Dodol, Es Goyang, Kembang Goyang, Akar Kelapa sampai Kue Rangi yang sudah mulai langka. 

Pagi-pagi kesana, saya sengaja belum sarapan dari rumah. Tapi sayang belum banyak yang buka. Saya pilih sarapan pakai toge goreng. Murah cuma 10.000 aja. Sebotol bir pletok seharga 12.000 saya beli buat oleh-oleh orang rumah. Pas jalan mau pulang, ngga sengaja lihat gerobak kue rangi. Langsung deh saya berhenti. Nunggu agak lama karena tukangnya baru bakar arang dan sabut kelapa. Demi sepapan kue rangi, mata perih dan batuk-batuk karena asap sih ngga masalah ;)
Surganya kuliner

Ada atraksi apa disana?
Minggu kemarin saya kesana pas banget sedang ada acara atraksi Pencak Silat dari beberapa perguruan yang ada di Jadebotabek. Speechless lihat atraksi dari anak-anak mulai usia 5 tahunan sampai yang dewasa. Berbagai jurus diperlihatkan dan menariknya sebelum tampil sang guru atau seniornya akan berpantun. Nah ini yang menarik dari pentas pencak silat ala Betawi. Saya pernah lihat atraksi berbalas pantun plus pencak silatnya saat acara Palang Pintu di pernikahan adat Betawi. Menarik banget!

Ngobrol-ngobrol dengan seorang ibu muda yang sedang antar anaknya ikut dalam atraksi tersebut, ternyata pencak silat termasuk salah satu tradisi yang dilestarikan di Setu Babakan, selain dari Tari-tarian Betawi dan Kesenian Gambang Kromong. Bagi yang minat untuk ikut latihannya bisa menghubungi langsung Sekretariat Sanggar Seni Betawi Setu Babakan di No HP 0813 8748 7766. Ternyata masih banyak peminatnya lho!


Kesenian Betawi yang terus dilestarikan. Keren!!!

Ngapain aja disana?
Banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan disana. Iseng-iseng saya mengelilingi setu pakai motor. Setelah lewatin penjaga, dengan modal karcis 2.000 saya bebas berkeliaran. Pertama yang langsung dilihat sudah pasti ya setu. Hehe... Kemudian warung dan tempat makan dengan view langsung ke sisi setu. Ada juga beberapa area pemancingan yang sudah ramai. Jalan yang saya lewati sangat rindang dengan berbagai pepohonan disisi-sisinya. Agak diujung, ternyata ada area pemakaman yang lumayan luas. Sampai di ujungnya, penghabisan dari setu langsung ke pemukiman warga. Saya berbelok ke sisi setu yang lainnya. Jalan agak rusak dan setu juga kelihatan tidak terawat serta banyak sampah. Sampai saya ke sisi setu yang mulai ramai lagi. Ada penjaga lainnya disitu, saya hanya memperlihatkan karcis. Bebas lewat tanpa harus bayar lagi. 

Setu Babakan ini sangat cocok untuk rekreasi bersama keluarga. Bisa naik delman, naik kuda tunggangan, perahu bebek, perahu naga, mancing, atau kulineran. Saya sebenarnya mupeng kepingin naik bebek-bebekan. Tapi karena kesana sendiri, capek banget nggowes perahunya sendirian (nasib jones -_-"). Nah saya datang hari minggu pagi, banyak juga tuh yang kesana sekedar jogging aja. Track-nya enak koq dan ngga terlalu ramai. Atau bisa juga seperti saya yang kesana cuma buat cari sarapan aja. Hehehe...


Bawa anak-anak pasti seru! 

Mau tau berapa yang saya habiskan?
Karcis = 2.000
Toge goreng = 10.000
Minum = bawa sendiri 
Kue rangi = 5.000
Bir pletok = 12.000
Parkir = 2.000
Ongkos = bensin masih full ;)
Irit banget kan?

Alhamdulillah...
Ngga sia-sia deh hari libur harus bangun pagi juga. Dapat udara bersih, olahraga dikit (hehe... lumayan jalan kaki berapa meter aja), bisa lihat atraksi gratisan, sarapan dengan menu yang unik (kue rangi tetep jadi favorit!), dan pulang bawa oleh-oleh yang langka.

Perut kenyang... Hati senang...


Plang yg eye catching! 


Tetiba nyasar dimarih
Setu Babakan, 2 Oct 2016 

Jumat, 30 September 2016

Akhirnya Pecah Telor Juga...

Entah dari mana awalnya istilah "pecah telor" buat sekelompok saudara atau teman yang masih single trus setelah sekian lama ada juga yang akhirnya melepas masa lajang. Trus jadi nyeletuk deh... 'Akhirnyaa... Pecah telor juga'. Telor apa yang pecah ya? Padahal nunggu telor pecah ga bakal selama dan seribet nunggu orang nikah. Tinggal nyalain kompor, siapin wajan, pecahin telor diatasnya. Jadi deh telor ceplok :p
Jalan. Makan. Jajan. We love it!
 
Alhamdulillah... setelah sekian lama dari gank jomblo (istilahnya Sulhani), akhirnya ada juga yang nyebarin undangan, CHUPY! Dan tau apa yang langsung kita bahas pas dia umumin lamaran? SERAGAM sebagai bridesmaid! Hahaha... Ga penting banget ya. 

Awalnya konsep nikahannya mau seperti yg pernah kita bahas disini. Tapi ya namanya ortu, banyak juga perintilannya. Saya bilang sih nikahannya tetep sederhana, sakral dan tetap bisa ikutin maunya ortu. Itu yang paling penting. Saya ga usah bahas ya gimana proses taarufnya Chupy & Rizki atau gimana dapat restu dari ortu. Saya mau bahas gimana persiapan kita sebagai bridesmaid yang baik. Hahaha... Penting ga penting sih, tapi biarlah saya bahas aja disini.

Sebagai bridesmaid yang baik, kamu tuh harus... 
  
1. Jadi tempat sampahnya si bride to be
Kenapa? Kamu harus bisa ngerti gimana stressnya si calon penganten. Mulai dari urusin administrasi KUA, undangan, baju, make up, souvenir, dll dll. Banyak deh yang bisa bikin dia jadi bridezilla. Siap-siap deh kamu jadi tempat curhatan, dari mulai seneng sampai nangis lebay :p 

2. Jangan jadi kompor meleduk
Katanya sih deket-deket waktu nikahan emosi si bride to be ini ga jelas, macam cewek PMS mungkin ya. Jangan sekali-kali kamu malah jadi kompor meleduk tiap kali dia curhat. Bisa-bisa nikahannya jadi gagal. Berabe tuh! Kalau dia cuma curhat complain masalah calonnya yang suka ngegulung celana kaya' kebanjiran, kamu ga usah ikutan complain. Cukup ketawain ngakak aja. Puas!   

3. Siap sedia saat si bride to be butuh bantuan
Karena banyak yang diurus, otomatis bikin banyak printilan yang kelupaan. So, kamu juga harus sigap tawarin bantuan atau sekedar ingatin hal-hal kecil yang mungkin terlupa. Contohnya nih, Chupy kelupaan ga sempet beli kaos kaki. Ga oke banget kan kalo dari atas udah cantik, eh bawahnya pakai kaos kaki bolong. Hehe...

4. Tampil kece saat hari H
Nah ini ga cuma berlaku buat si penganten aja, bridesmaid kudu wajib tampil kece. Kali aja ada yang bisa nyantol gitu. *wink

5. Temenin di detik-detik terakhir penganten berstatus single
Konsep akad nikahannya Chupy ini kan dipisah. So, saat ijab kabul si penganten wanita "diumpetin" di ruangan terpisah. Tapi masih bisa ngintip & dengar suara ijab kabulnya. Nah saat itu kan si penganten wanita pasti deg-degan banget. Kita sebagai bridesmaid harus bikin susasana yang santai. Misalnya wefie :D

6. Ikut bahagia
Iyalah masa di saat sahabat bahagia, kitanya malah sedih. Ga usah pikirin dulu deh kantong yang lagi nipis, utang yang numpuk, cucian yang menggunung, kerjaan yang deadline atau pacar yang tak kunjung ngelamar. Jadi curcol ini mah. Hehe... Lupakan itu semua, ikut senang bersama. Let's get party started, gals!
Bride & Her Bridesmaid
 
  Akhirnya pecah telor juga. Katanya nih kalo udah pecah telor satu orang, bakalan beruntun. Artinya yang lain bakal segera menyusul ga lama lagi. Ayo teriak "Aaamiiiin..."
Cie... Penganten Baru

Barakallahu lakuma wa barakallah 'alaikuma 
wa jama'a bainakuma fii khair...
Chupy & Rizki
18 Sept 2016

Rabu, 20 April 2016

Jangan Asal Kenyang

Hidup untuk makan?
Atau makan untuk hidup?

Itu saya kembalikan lagi ke persepsi hidup kalian masing-masing. Bagi seorang food traveler, mendapatkan makanan enak dan unik mungkin merupakan hal yang menarik. Apalagi untuk makanan yang tidak semua orang bisa (atau tepatnya nggak jijik) untuk menikmatinya. Contohnya insect snack yang sangat terkenal dijajakan di Thailand. Saya sebenarnya sangat penasaran, tapi rasa jijik lebih dominan di otak saya saat berniat beli.

Kalau pertanyaan di awal tadi diajukan kepada saya, jelas saya pasti akan pilih makan untuk hidup. Seperti WhatsApp mesra yang selalu saya kirimkan kepada teman dekat saya dulu, 'Sayang... Kamu udah makan belum? Makan dong, nanti mati lho!'. Mesra dari mananya ya? Hahaha...

Saya merupakan tipikal omnivora atau pemakan segala. Apapun juga bisa saya lahap, kecuali karung dikecapin ya. Hihihi... Dan Alhamdulillah-nya juga ayah saya menurunkan gen yang bikin semua perempuan iri, yaitu gampang kurus dan susah gemuk. Mau makan apapun dan sebanyak apapun, faktanya timbangan saya rekornya di angka 50 kg aja. Dengan tinggi 165 cm, sangat kurang ideal pastinya. Dan saya pun sudah terbiasa dengan julukan tiang listrik, bambu runcing atau di bilang cacingan. But, I love myself no matter what other thinks.

Pemakan Segala

Tapi beberapa tahun ini, saya mulai aware dengan namanya makanan halal. Dulu saya beranggapan kalau makanan bukan berasal dari babi dan anjing itu pasti halal. Ternyata saya salah besar, Sodara-sodara! Saya dapatkan pengetahuan yang lumayan lengkap dari Group Facebook Indohalalcare Page dan berteman di Facebook dengan Mba Meili Amalia

Mata saya mulai terbuka lebar tentang betapa pentingnya Sertifikat Halal (SH) yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari suatu produk. Bukan cuma makanan, bahkan produk selain makanan pun kian marak proses SH juga. Masyarakat terutama yang muslim sudah mulai jeli dalam memilih. Memang tidak sedikit yang mencibir tentang issue SH yang mudah diperjualbelikan. Saya sih lebih memilih mengkonsumsi sesuatu yang jelas kehalalannya daripada yang syubhat atau masih diragukan statusnya. Pasangan aja saya pilih yang jelas-jelas, apalagi soal makanan ;)





"Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rizki yang halal dan baik, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya." 
(Q.S. Al-Maidah : 88)

20 April 2016
Cari yang halal aja yuks!

Selasa, 12 April 2016

Bandung, Spontaneous Trip



Sebagai new comer di dunia pengangguran, saya mulai mati gaya setelah 2 minggu di rumah. Maka saat Ipah mengajak jalan-jalan ke Bandung untuk mengisi waktu cutinya, saya pun langsung meng-iya-kan ajakannya. H-1 Ipah membeli tiket kereta Argo Parahyangan seharga Rp 172.500 untuk berdua dari Gambir sampai ke Bandung untuk keberangkatan tanggal 14 Maret 2016 jam 07.15. Sengaja hanya membeli tiket one way karena kita belum tau jam berapa bisa kembali pulang.

Esoknya saya tetap harus mengandalkan Ibu untuk membangunkan. Sekitar jam 5 lewat saya meluncur dengan motor ke Stasiun Pondok Cina. Seperti biasa di hari Senin, kondisi commuter line padat banget. Engga jelas tangan kemana, kaki kemana. Dan pastinya di gerbong khusus wanita, kita harus mengikuti arus. Tiap jalan doyong ke belakang dan tiap kali ngerem harus doyong ke depan. Seru deh… (dan bikin body makin gepeng :p).

Alhamdulillah tiba di Gambir tepat waktu sekitar jam 7. Dan Ipah sudah datang sekitar 10 menit sebelumnya. Struk sudah ditukar dengan tiket. Tinggal menunggu kedatangan pangeran, eh maksudnya masinis lho. Dan ternyata kereta datang agak telat 20 menit dari jadwal. Sempat pula ada insiden salah duduk. Hahaha…

Tiba di Bandung sekitar jam 11 siang. Kita langsung keluar stasiun untuk mencari angkot jurusan Lembang. Destinasi pertama adalah Floating Market. Cuaca disana yang mendung-mendung manja bikin pengen ngunyah terus. Apalagi makanan disana sukses bikin goyah iman. Mulai dari seblak pedes, tutut kari, es cendol. Keliling sebentar pakai perahu. Lanjut ngunyah colenak dan tahu crispy. Engga ada kenyangnya  deh. Moga-moga pulang bisa nambah 1-2 kilo deh. Aamiin Ya Allah! Oiya, tiket masuknya seharga Rp 25.000 bisa ditukar dengan segelas minuman panas macam kopi, latte, atau teh. Untuk beli makanan atau naik wahana disini sangat menarik. Kita harus menukar uang dengan koin plastik senilai 5.000, 10.000 atau 20.000. Koin inilah yang digunakan sebagai alat pembayaran.

Nyemal-Nyemil di Floating Market Lembang

Destinasi selanjutnya adalah Farm House yang letaknya engga jauh dari Floating Market. Nah, untuk yang doyan narsis tempat ini cocok banget karena banyak spot menarik dan unik mirip-mirip di Eropa gitu. Misalnya jajaran toko, taman bunga, rumah pohon, tempat gembok cinta, rumah Hobbit, dan of course peternakan hewan seperti kelinci, domba, ayam, dan berbagai jenis burung. Untuk makanan sih kurang menarik disini. Menunya pun lebih banyak yang western. Maaf ya lidah Indonesia engga bisa bohong. Hehehe… Tiket masuknya seharga Rp 20.000 pun bisa ditukar dengan minuman berbahan dasar susu. Segerrr!

 Photo Session di Farm House Lembang

Menurut saya kedua destinasi diatas cocok banget untuk wisata bersama keluarga, terutama anak-anak. Pasti dijamin engga mau pulang deh. Sayang saya belum bisa ajak mereka. Orang suami aja belum punya, gimana mau punya anak. Hahaha… (promosi.com).
Hari mulai sore dan perut mulai keroncongan. Segala macam cemilan di Floating Market tadi sudah hilang tak berbekas. Kita balik naik angkot lagi jurusan stasiun tadi. Info pak supirnya, Masjid Raya bisa ditempuh dengan jalan kaki dari stasiun. Sampai di stasiun kita pakai bantuan GPS. Ya memang engga terlalu jauh, sekitar 10 menit jalan kaki. Tapi dengan kondisi perut lapar lumayan bikin perjalanan berasa engga sampai-sampai. 

Setelah sholat Dzuhur yang di jamak ke Ashar, kita bergerilya lagi mencari makan. Rekomendasi dari banyak orang di google adalah Bebek Garang di Jalan Braga. Pas sampai koq berasa kenal sama icon dan interiornya. Ternyata saya sering makan di Bebek Garang cabang Margonda Depok. Hahaha… Rasanya persis sama. Dan enak (soalnya lagi lapar-laparnya banget :p).

Perut kenyang baru deh mikir buat cari penginapan. Awalnya sih engga niat mau nginap. Tapi kayaknya saying ke Bandung baru cuma keliling Lembang aja. Searching-searching di Agoda dapat penginapan di Unique Guesthouse 1 seharga Rp 142.500 include breakfast. Murmer banget kan! Agak lumayan jauh sih jalan kaki dari Masjid Raya dan letaknya pun di tengah-tengah perumahan. Lagi-lagi GPS-lah dewa penolong yang nunjukin jalan. Ya tapi cukuplah buat ngelurusin badan dan meremin mata semalaman. Dan ternyata kita cukup pulas koq. Hahaha… 

A Nite in Bandung

Besok paginya rencana itu mau ke Museum KAA. Tapi apalah daya karena antrian kamar mandi dan bergosip yang engga ada habisnya, jam 9 lewat baru siap ke destinasi selanjutnya. So, karena sudah kesiangan, Museum KAA pun harus rela di skip. Kita ke Masjid Raya lagi buat foto-foto di waktu pagi. Panas bok! Engga kuat lama-lama, kita langsung menuju pos polisi buat tanya-tanya angkot jurusan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda. Saat jalan menuju jalurnya, ada sederetan outlet FO yang bikin goyah iman juga. Dasar cewek, mampirlah kita kesitu. Alhamdulillah Allah masih menyelamatkan kita melalui lembaran di dompet yang menipis. Hahaha…

Lanjut naik angkot jurusan Dago Pakar. Sampai di terminal Dago harus nyambung ojek lagi. Transaksi tawar menawarlah. Akhirnya disepakati Rp 40.000 PP ke Tahura. Di tengah perjalanan salah satu tukang ojeknya nawarin tambah menjadi Rp 70.000 bisa PP sampai ke Tebing Keraton. Wah… tawaran menarik nih. Masih lebih murah dari info-info di catper orang. So, langsung kita putusin nambah tujuan ke Tebing Keraton dulu, baru pulangnya ke Tahura. Nice!

Naik ojek ke Tebing Keraton benar-benar bikin memacu adrenalin. Kita harus lewati beberapa kali tanjakan dan turunan curam. Apalagi ditambah jalanannya yang masih hancur. Bikin kaki dan tangan pegel karena nahan badan. Tapi bonusnya dapat view yang bagus selama di perjalanan. Sayangnya saat itu Tebing Keraton lagi turun kabut. Dan jadi tempat pacaran. Wew! Engga asiklah, soalnya yang saya bawa itu Ipah, bukannya pacar. Hahaha… Nah, sempat ada insiden di menara pandangnya. Kita ngakak terus komenin apa aja. Pas turun dari atas menara tiba-tiba Ipah kepeleset di tangga dan jatuh dari ketinggian sekitar 3 meter. Ada luka ditangan dan kepalanya sempat kepentok kayu. Shock banget deh. Jadi pelajaran nih, dimanapun jangan asik sama dunianya sendiri dan engga usil komenin orang. Mungkin penunggu disana agak terganggu sama suara kita. Maaf yaa…

 Sebelum insiden di Tebing Keraton

Setelah Ipah agak tenang, baru kita kembali ke pangkalan ojek. Sudah lewat jam makan siang dan kita belum isi apapun kecuali sarapan setangkup roti dari penginapan tadi. Di tengah perjalanan ke Tahura, kita lihat ada Café D’Pakar. Kita minta untuk berhenti makan siang dulu. Benar-benar juara deh! Makanannya enak dan view-nya keren banget. Tadinya saya pikir ini café mahal, tapi ternyata harganya standar. Memang ada minimum order, yaitu Rp 25.000/orang. Mungkin dulu banyak dimanfaatin jadi tempat nongkrong doang tanpa order apapun.  Suasana siang disitu aja juara banget, apalagi kalau malam ya. Romantis abis!

 Ini kisah cintaku. Cuma jadi penonton :'(

Langit mulai mendung, kita putuskan segera ke destinasi selanjutnya yaitu Tahura. Si abang ojek tadinya agak keberatan kalau kita mampir lagi ke Tahura alasannya karena kita nambah berhenti ke Café D’Pakar. Kita ngotot aja, kan tujuan awalnya memang Tahura. Kita bilang cuma sebentar aja disana karena memang langit sudah tambah gelap. Ternyata Tahura lebih menarik dari Tebing Keraton. Sayang waktu kita engga banyak buat meng-explore. Apalagi disana kita bisa tracking sampai ke curug. Pokoknya saya harus balik kesana lagi.

 10 menit di Tahura

Dan benar di ojek perjalanan menuju terminal Dago, hujan mulai turun rintik-rintik. Kemudian mulai agak menderas tapi ojek kita tetap meluncur untuk kejar waktu pulang. Sampai di terminal, kita tambahin ongkos ojeknya masing-masing jadi Rp 80.000 karena abang ojek saya mukanya agak asem. Keliatan engga sabaran banget pengen cepat-cepat pulang terus. Bikin bete! 

Kita balik naik angkot yang sama. Supir pertama bilang angkotnya akan turun engga jauh dari stasiun. Tapi ternyata ditengah perjalanan, ganti supir yang rutenya malah agak jauh dari stasiun. Sebel! Di stasiun kita cari jadwal kereta ke Jakarta yang terdekat. Ada jam 16.15, itu artinya kita cuma punya waktu tinggal 20 menit aja. Selain itu ada jam 17.25. Terlalu lama nunggunya. Kita putuskan untuk naik bus aja sambil cari oleh-oleh buat orang rumah.

Jalan lagi, eh ketemu tukang batagor. Cipika-cipiki deh. Ups… Ada menu yang beda disini, batagor kuah. Ipah yang pernah tinggal di Garut bilang, kalau memang batagor kuah itu pasti ada di menu batagor. Beda ya sama batagor di Depok, cuma ada batagor bumbu kacang. Dan ternyata enak juga lho, kuahnya itu dari tukang bakso. Mungkin mereka sudah jadi partner bisnis, batagornya ambil di gerobak sendiri tapi kuahnya ambil di gerobak bakso. Saya juga ditawarin bila mau pakai tambahan bakso. Simbiosis mutualisme nih antara tukang batagor dan tukang bakso. Moga mereka terus berjodoh. Lho!

Lanjut jalan lagi lewat Pasar Baru. Ipah ngeborong kaos oblong Bandung buat orang rumahnya. Dan saya seperti biasa cari kaos gambar peta Bandung yang selalu jadi incaran kemanapun. Untuk orang rumah saya beli kerupuk setan, yang kalau dimakan bisa langsung teriak se**n! saking pedesnya. Se**n! (sambil ngunyah kerupuk se**n!).

Balik lagi ke Mesjid Raya. Wah… memang benar pelataran Masjid Raya ini jadi tempat wisata warga Bandung. Rame banget! Yang banyak tuh keluarga dan rombongan ABG. Seru banget buat tempat kejar-kejaran atau guling-gulingan ayah dan anak. Tapi jangan buat orang yang pacaran ya. Bisa ditimpuk rame-rame tuh. Langsung deh dinikahin. Mau dong! Hahaha…


Kekinian di Bandung

Disitu kita packing ulang tas yang mulai beranak pinak dan tanya-tanya rute ke terminal. Dari depan masjid kita naik bus Damri jurusan Terminal Leuwi Panjang. Tiba-tiba hujan deras, untung sudah di dalam bus. Sampai di terminal, saya dan Ipah berpisah. Ipah naik bus jurusan Kalideres, sedangkan saya jurusan Depok. Kita berpisah diiringi lagu kebangsaan Selendang Sutera dengan background lambaian tangan calo-calo bus yang bercucuran air mata. Apa sih?

Overall, trip singkat 2 hari ini cukup bikin puas. Lumayan banyak tempat yang bisa di explore. Tapi masih banyak PR buat jelajahin Bandung bagian lain. Dan pastinya saya harus balik lagi ke Bandung buat shopping. Hahaha… Teteuupp!

 14 - 15 Maret 2016
Perjalanan singkat 2 cewe jomblo & galau akut
Alhamdulillah belum niat bunuh diri :p